Monday, August 05, 2013

Sebelum Ramadhan berlalu pergi...Ku harapkan Keampunan & kemaafan dari Mu....

Bulan keampunan ini bakal berlalu, rugilah jika ianya berlalu dalam keadaan kita tidak mendapat keampunan dari Allah sedang kita tidak tahu bilakah temu janji kita dengan malaikat pencabut nyawa & malaikat di alam barzakh. Jangan kita tertipu dengan bisikkan syaitan dan orang jahil yang membisikkan bahwa"dosamu sudah memenuhi seisi bumi, lalu keampunan apa lagi yang engkau harapkan"


Di dalam satu hadith ...

Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. 
(HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Oleh itu tiada halangan untuk kita taubat & memohon ampun, sedangkan seorang pelacur dan pembunuh 100 nyawa juga masih mendapat rahmat & ampunan Allah yang Maha Luas, apakah kita lebih besar dosanya ?


Ingatlah pintu taubat setiasa terbuka luas sebagaimana di dalam beberapa hadith..


“Allah -Azza wa Jalla- akan senantiasa membuka lebar-lebar tangan-Nya pada malam hari utk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada siang hari & Allah senantiasa akan membuka tangan-Nya pada siang hari utk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari, & yang demikian terus berlaku hingga matahari terbit dari barat.” 
(HR. Muslim no. 2760)

“Sesungguhnya Allah Azza wajalla menerima taubat seorang hamba, selama nyawa belum sampai tenggorokkan.”
 (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)



Amatlah malang serta rugi jika kita keluar dari ramadhan tanpa mendapat pengampunan dari Allah, Ini sebagaimana sebuah hadith yang wajar di jadikan renungkan buat kita semua baik yang mempunyai dosa kecil, dosa besar dan apa jenis dosa...

Dari Ka’ab Bin ‘Ujrah (ra) katanya:

Rasulullah S.A.W bersabda: Berhimpunlah kamu sekalian dekat dengan mimbar. Maka kami pun berhimpun. Lalu beliau menaiki anak tangga mimbar, beliau berkata: Amin. Ketika naik ke anak tangga kedua, beliau berkata lagi: Amin. Dan ketika menaiki anak tangga ketiga, beliau berkata lagi: Amin. Dan ketika beliau turun (dari mimbar) kami pun bertanya: Ya Rasulullah, kami telah mendengar sesuatu dari tuan pada hari ini yang kami belum pernah mendengarnya sebelum ini.

Lalu baginda menjawab:

“Sesungguhnya Jibrail (A.S) telah membisikkan (doa) kepadaku, katanya: Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak juga diampuni. Lalu aku pun mengaminkan doa tersebut. Ketika aku naik ke anak tangga kedua, dia berkata lagi: Celakalah orang yang (apabila) disebut namamu di sisinya tetapi dia tidak menyambutnya dengan salawat ke atasmu. Lalu aku pun mengaminkannya. Dan ketika aku naik ke anak tangga yang ketiga, dia berkata lagi: Celakalah orang yang mendapati ibubapanya yang sudah tua atau salah seorang daripadanya, namun mereka tidak memasukkan dia ke dalam syurga. Lalu aku pun mengaminkannya.

Hadits Riwayat Bazzar dalam Majma’uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 disahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka’ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No.500 dari Jabir bin Abdillah)

Oleh itu, Berusaha & berusahalah bersungguh-sungguh agar kita keluar dari Ramadhan kali ini dengan mendapat keampunan dari Allah SWT...

Berdoalah & teruskan memohon keampunan Dari Nya


 اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Allah sesungguhnya dikaulah maha pemaaf, dan amat suka memberi  maaf, maka berikanlah daku kemaafan


Moga Allah mengampuni & merahmati kita... 

Jangan Berputus Asa & Ikuti video yang bermanfaat ini:                                                                                                                                                                                                                                                         

Thursday, October 14, 2010

MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT



Oleh: Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu
Nukilan dari buku: Al Fiqrotun Najiyah.

1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya. Yaitu Al-Qur'anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya:

"Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan ter- sesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kita- bullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga)."
(Di shahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami')


2. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk)kepadaKalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka, sebagai realisasi dari firman Allah:

"Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembali- kanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat- nya."
(An-Nisaa': 59)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
(An-Nisaa': 65)


3. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya, realisasi dari firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh- nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(Al -Hujurat:1)

Ibnu Abbas berkata:
"Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, 'Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka mengatakan, 'Abu Bakar dan Umar berkata'."
(HR. Ahmad dan Ibnu 'Abdil Barr)




4. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.

Mengesakan Allah dengan beribadah, berdo'a dan memohon pertolongan baik dalam masa sulit maupun lapang, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin menca-pai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad saw.


5. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi:

"Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing."
(HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak."
(Al-Albani berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih")


6. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum , yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi:

"Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik- baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat."
(Hadi t s hasan riwayat Imam Ahmad)

Imam Malik berkata, "Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu‘alaihi wa Sallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan(ditolak) kecuali Nabi saw (yang ucapannya selalu diambil dan diterima)."


7.Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits.Tentang mereka Rasulullah
bersabda:

"Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina- kan mereka sehingga datang keputusan Allah."
(HR. Muslim)

Seorang penyair berkata,

"Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya.


8. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.

Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum- hukum Islam) dari Al-Qur'an, hadits-hadits yang shahih , dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya


9.Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Mereka melarang segala jalan bid'ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid'ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para sahabatnya.


10.Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa'at Rasulullah –dengan izin Allah.


11.Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia didunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.

Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundurnya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'ad: 11)



12.Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.

Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan:

Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan:
Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini.Beliau bersabda:

"Hari Kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok da- ri umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelom- pok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala."
(Hadits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)

Kedua, jihad dengan harta:

Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa makanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.

Ketiga, jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi dimedan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina. Dalam hubungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam meng-isyaratkan dalam sabdanya:

"Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan
lisanmu."
(HR. Abu Daud, hadits shahih)

Adapun hukum jihad di jalan Allah adalah:

Pertama, fardhu 'ain:Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan agresi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan –jika berpangku tangan– ikut berdosa, sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu enyah dari wilayah Palestina. Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa.
Kedua, fardhu kifayah: Jika sebagian umat Islam telah ada yang

melakukannya maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur. Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara- negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia. Barangsiapa meng-halangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar.

Sunday, May 23, 2010

Bahaya Syirik

DEFINISI SYIRIK:[1]



Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Rububiyyah dan Uluhiyah serta Asma’ dan Sifat-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata: “ Syirik ada dua macam.Pertama,syirik dalam Rububiyyah,iaitu menjadikan sekutu selain Allah Ta’ala yang mengatur alam semesta,sebagaimana Firman-Nya:


قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِۖ لَا يَمۡلِڪُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٍ۬ وَمَا لَهُ ۥ مِنۡہُم مِّن ظَهِيرٍ۬ (٢٢)


Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaum musyrik): "Serukanlah makhluk-makhluk yang kamu dakwakan sebagai tuhan selain dari Allah; mereka tidak memiliki kuasa seberat debu pun di langit dan di bumi, dan mereka tiada sebarang bahagian perkongsian (dengan Allah) dalam (mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi, dan Allah pula tidak mendapat sebarang pertolongan dari mereka".

(Saba’: 22)



Kedua,syirik dalam uluhiyah,iaitu beribadah (berdoa) kepada selain Allah,baik dalam bentuk doa ibadah mahu pun doa mas’alah.”[2]


Umumnya yang dilakukan manusia adalah menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah,Iaitu dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah,seperti berdoa kepada selain Allah di samping berdoa kepada Allah atau memalingkan sesuatu bentuk ibadah seperti menyembelih(qurban), bernadzar,berdoa dan sebagainya kepada selain Allah.



Kerana itu, barang siapa menyembah dan berdoa kepada selian Allah Subhanu wa taala beerti ia telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak,dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar.

Allah Subhannahu wa Taala berfirman:


إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬ (١٣)

“…sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”

(Luqman: 13)



Diriwayatkan dari Abu Bakrah RA.Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (bermaksud):

“Mahukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?”(Baginda mengulanginya tiga kali.) Mereka(para sahabat) menjawab: “ Tentu saja, ya Rasulullah.” Baginda bersabda: “Syirik kepada Allah,durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu Baginda bersabda: “ Dan ingatlah,(yang ketiga) perkataan dusta!” Perawi Berkata: “Beginda terus mengulanginya hingga kami berharap Baginda diam”[3]




[1] Syarah Rukun Islam Jilid 1 oleh Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

[2] Iqtidhaa-ush Shiraatil Mustaqiim(II/226) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[dikutip dari Syarah Rukun Islam Jilid 1 oleh Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

[3] Riwayat Bukhari(no.2654) dan Muslim (no.88). [dikutip dari Syarah Rukun Islam Jilid 1 oleh Yazid Bin Abdul Qadir Jawas

Friday, December 25, 2009

Syeikh Dr Wahbah Zuhaili & Tauhid Tiga

Selamat Mengambil manfaat dari ulama besar ini.

Wednesday, September 16, 2009

Amalan Kita Ikut Siapa?

Kuliah yang sarat dengan ilmu dan sangat menarik yang di sampaikan oleh As-Sheikh Hussein Yee yang sedikit sebanyak dapat membantu kita dalam memahami cara beragama yang benar.

1.


2.


3.


4.


5.


6.


7.



Ayuh muhasabah cara beragama kita,amalan kita selama ini.Semoga bermanfaat.

Wasalam.

Sunday, August 23, 2009

Alhamdulillah Masih Ada Ramadhan buatku..




Alhamdulillah bersyukur saya ke hadrat Allah SWT kerana masih mengizinkan saya untuk berada di dalam Ramadhan kali ini.Ramadhan bagi orang beriman ibarat bulan yang sememangnya ditunggu-tunggu,akan tetapi bagi kaum munafik mereka merasakan Ramadhan adalah suatu penyeksaan bagi diri mereka,ayuh muhasabah di kelompok manakah kita?

Bersama ini sedikit panduan bagi kita di bulan Ramadhan,amat perlu kita terhadap ilmu dalam manfaatkan bulan Ramadhan kali ini,semoga amal salih kita menepati syarak dan diterima Allah SWT.



Puasa Tidak Boleh Berpisah Dari Dalil Sunah

Adab Berbuka Puasa - Menurut Sunah Rasulullah S.A.W.


Koleksi Artikel Persiapan Menjelang Ramadhan[SAIFULISLAM.COM]

Inginkan Ilmu Kebal dan Antivirus ‘Dosa' ?

Kesilapan Kerap Muslim di Ramadhan

Ramadhan : Apa Perlu Buat?

Mari Mengulangkaji Tentang Ramadhan[MINDA AKOB]

Semoga ada manfaatnya dan sila sebarkan.

Sekian Wassalaam

Thursday, July 30, 2009

Peristiwa Di Nisfu Syaban 2005

Gambar Hiasan


“assalammualaikum,lepas maghrib kita ada baca yasin 3 kali sempena dengan nisfu syaban”pengumuman tidak rasmi orang kuat surau al-aman.



“baca yasin 3 kali,untuk apa ni?” aku menduga



Sesudah solat maghrib selesai,jemaah pun mula mengambil tempat dan terhasil satu bulatan di dalam surau ini seperti kebiasaan khamis malam jumaat.



“malam ini malam nisfu(separuh/pertengahan) syaban,jadi malam ini kita baca yasin 3 kali” Ulang Imam yang mengetuai bacaan yasin yang kemudiannya di ikuti dengan doa yang agak panjang.



Inilah yang berlaku ketika saya masih belajar di tingkatan 3(tahun 1999).Saya terus mengamalkannya dengan penuh keikhlasan mengharapkan amalan ini diterima Allah SWT.Sehingga pada tarikh(Thursday, September 22, 2005) saya terbaca satu artikel berkaitan amalan ini yang saya kira sudah agak sebati dengan saya.






"nak buat apa ekk sempena nisfu sya'ban ni??puasa?qiam?zikir?ye ke??
Message: daripada
syaikh Yusuf Al-Qardawi menukil kata-
kata al-imam Ibn al-'Arabi dalam persoalan bulan
sya'ban:



"tiada hadith yg dipercayai kesahihannya
mengenai keutamaan malam Nisfu Sya'ban. jika
kita hendak menerima hadith2 yang menerangkan
ttg keutamaan malam nisfu sya'ban dan hendak
memperingatinya dengan amal2 kebajikan,maka
hal ini TAK PERNAH berasal dpd Rasullullah
mahupun para sahabat dan umat muslimin pada
abad pertama padahal mereka adlh umat islam yg
terbaik.



-dpd semua sumber tersebut tidak ada riwayat
yang menerangkan bahawa malam nisfu ysa'ban
diperingati dgn berkumpul di masjid2 , membaca
doa2 tertentu dan melakukan solat2 khusus spt
sesudah solat maghrib, sejumlah orang berkumpul
untuk membaca yaasin dan solat sunat 2 rakaat
dgn niat2 tertentu spt mohon pjg umur, ditambah
dua rakaat lagi dan doa dijauhakn ktergantungan
hidup dr org lain dan berdoa pjg lebar yg tak
berasal drpd kalangan salaf" [fatwa Mu'ashirah
(edisi terjemahan oleh al-hamid al-husaini dgn
judul Fatwa-fatwa mutakhir; pustaka hidayah,
Bandung 1996), ms. 480-481]

sebenarnya, terdapat satu HADITH SAHIH
berkenaan nisfu sya'ban yang saya amat yakin
ramai yang terlepas pandang terhadap hadith ini..



-diriwayatkan oleh al-imam ibn Hibban, berkata
Syaikh Syu'ib al-Arna'uth hafizahullah dalam
semaknya ke atas Sahih Ibn Hibban (Muassasah
al-Risalah, Beirut 1997) jilid 12,ms
481,no.5665 "hadith sahih bi syawahid" dan
diriwayatkan juga oleh al-Imam al-munziri dlm
kitabnya at-Targhib wa al-Tarhib "sahih
bisyawahid" dan Syaikh al-albani dalam al-Targhib
wa al-tarhib, jld 1,ms.597,no:1026: "hassan sahih"

hadith tersebut ialah: "Allah akan memperhatikan
semua makhluk pada malam nisfu sya'ban, maka
dia akan mengampuni semua makhlukNya kecuali
orang musyrik dan yang BERMUSUHAN (sesama
sendiri)"



sahabat-sahabat sekalian, pa yg kita boleh dpt
dpd hadith ini?
bukan dengan pengamalan zikir dan wirid spjg
malam,juga bukan dgn berpuasa sunat nisfu
sya'ban...

ttp, cara beramal dgn hadith ini adlh dgn cara
melayakkan diri kita supaya mendapat
pengampunan allah. terdapat dua syarat
kelayakan ,yang pertama tadi kita dah
lulus,insyaAllah... yang kedua pula kita perlu
pastikan bahawa kita TIDAK BERMUSUHAN dgn
sesiapa di kalangan umat islam...jika
ada,hendaklah kita bermaaf-maafan dan
menghubungkan silaturrahim...

itulah cara kita beramal ketika nisfu Sya'ban...

mungkin ada yang akan berkata: apa salahnya
kita buat amalan-amalan lain yg baik..semua tu
adlh perkara baik...

benar...ttp, biarlah setiap yg hendak kita lakukan
adlh yang dianjurkan oleh allah dan
rasulullah..jangan kita lupa,rasulullah adalh
pembimbing kita dan paling dekat dgn allah..sudah
pasti baginda yg lebih mengetahui apa yang allah
sukai..bukannya kita...

lagipun,jika kita terlalu bertindak beramal dgn
hadith-hadith dhaif dan meninggalkan yang
sahih..itu juga salah satu sebab umat islam kini
semakin berpecah-belah dan akiqah tergugat....itu
yang orang nampak islam susah! sebab maca2
benda yg islam tak anjurkan tapi kita tokok
tambah...kan jadi fitnah...

untuk akhirnya,semoga artikel ini memberi
manfaat dan ilmu kepada yang membaca....





SIKAP





“Aik,abis tu selama ini apa yang aku buat tak betul ke?” Soal saya sendiri selepas meneliti hujah artikel tersebut.Benar saya harus jelas dalam apa yang ingin dilakukan seperti firman ALLah di dalam ayat ini.



Firman-Nya yang bermaksud:



“Dan janganlah kamu berpendirian di dalam sesuatu perkara yang kamu tidak ada pengetahuan mengenainya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu akan dipersoalkan (di akhirat).”

(Surah Al-Isra’ 17 : 36)



“sia-sialah apa yang aku dah buat selama ini,artikel ini ada dalil dari hadis yang shahih,siap ada pandangan ulama terkenal dr yusuf al-qaradawi lagi.”Konflik menghujah diri.


“Kalau silap takkan aku nak terus amalkan,takpe baik aku Tanya ustaz dulu,kalau memang amalan aku selama ini tak betul aku kena ubah ikut cara yang betul”Cuba mencari kepastian dengan merujuk ahli ilmu.tidak wajar saya terus menerima kabar tanpa memastikan kebenarannya dan keshahihannya terlebih dahulu.Ini bertepatan dengan ayat ini.


Firman-Nya yang bermaksud:



“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasiq kepada kamu membawa berita, periksalah ia terlebih dahulu. Agar nanti jangan kamu menghukum sesuatu kaum dalam keadaan jahil (terhadap apa yang benar), lantas kamu kemudiannya menyesal atas apa yang telah kamu lakukan”

(Surah Al-Hujurat 49 : 6)




Dalam dilema.Bagi mendapat kepastian saya telah menghantar email artikel tersebut kepada ustaz yang mengajar saya ketika itu,beliau seorang lulusan al-azhar.Alhamdulillah ustaz tersebut prihatin terhadap persoalan yang dilontarkan dan lantas mengirim balas dengan kandungan:




Assalamualaikum

Ada beberapa perkara yang perlu difahami berkaitan dengan ibadat. Asal bagi sesuatu ibadat adalah haram, kecuali ada dalil (nas al-quran atau Hadis) maka barulah boleh sesuatu ibadah itu dilakukan. Sebab itu dalam hal ibadat, kita perlu mengikuti amalan Rasulullah saw. Bagi memahami dengan lebih jelas bab Bid’ah, saya majukan jawapan dari pihak panel Islamonline.

………………………………………………………………..

Those who try to understand the concept of Bid`ah in its linguistic sense maintain that the root of the word includes that which is new and unprecedented. Hence, they define Bid`ah as everything that has been introduced following the death of the Prophet (peace and blessings be upon him) and the golden eras of his Companions (may Allah be pleased with them all).

The aforementioned linguistic definition encompasses what is good and what is bad, acts of worship (`Ibadat) and others that are otherwise. Those who follow this definition argue that the word Bid`ah as well as the acts related to it are praised in certain religious contexts while condemned in others. This may explain why some scholars have dubbed certain innovative acts as being religiously recommended while classifying others as being religiously condemned.

Imam Shafi`i stated that innovative acts are of two kinds: the first one includes those things that do not go in harmony with the Qur'an, Sunnah, traceable tradition (Athar) and the consensus (Ijma`) of Muslims. The second kind includes those innovations that bring about that which is good and this kind is not condemned.

The previous classification of Bid`ah is also maintained by Imam An-Nawawi.

However, Imam Al-`Izz ibn `Abdus-Salam classified Bid`ah into five categories:

1-Obligatory innovation, such as combining and classifying Arabic sciences and teaching them.

2-Religiously recommended innovation, such as building schools.

3-Religiously forbidden innovation, such as reciting the Qur’an in a way that changes the meaning of its words from their contexts.

4-Religiously condemned innovation, such as decorating mosques.

5-Religiously permitted innovation, such as serving different dishes on one dining table.

On the other hand, those who adopt the technical definition of Bid'ah state that innovation includes things that apparently resemble Shari`ah, but genuinely they don’t. On the basis of this definition, all innovations are strongly condemned, and hence they can not include the five categories mentioned by Imam Al-`Izz ibn `Abdus-Salaam above. This may explain the Prophetic saying, "Every innovative act is an aberration."

Also, Imam Malik stated that he who innovates something in Islam while deeming it to be a good innovation has alleged that Muhammad (peace and blessings be upon him) was unfaithful in disseminating his message as Allah Almighty says: "This day are those who disbelieve in despair of (ever harming) your religion; so fear them not, fear Me! This day have I perfected your religion for you and completed My favor unto you, and have chosen for you Al-Islam as religion. Whosoever is forced by hunger, not by will, to sin: (for him) Lo! Allah is Forgiving, Merciful." (Al-Ma'idah: 3)

Hence, the innovations that are unlawful in Islam include the following:

1-Being innovated, in the sense that the innovation does not take place during the early Islamic period.

2-The innovation is considered unlawful when it contradicts one of the primary sources of Islam, such as the Qur'an and the Sunnah.

As a result, things that are new and unprecedented, but go in line with the spirit of Islam, and do not contradict its basics are not considered innovations. It is recorded that some of the Prophet's Companions (may Allah be pleased with them all) would say the Talbiyah (during Hajj) in a formula different from that said by the Prophet (peace and blessings be upon him). For example, Anas (may Allah be pleased with him) would say, "Labbayka Haqqan Haqqa Labbayka Ta`abbudan Wa sedqa." ‘Truly I am at your service O Allah; I am at your service in true worship of You.’

Also, `Umar (may Allah be pleased with him) is reported to have gathered people to perform Tarawih (Ramadan night prayer) in congregation. It is noteworthy here that the same act did not exist during the lifetime of the Prophet (peace and blessings be upon him).

May Allah guide you to the straight path, and direct you to that which please Him, Amen.

Allah Almighty knows best.




Kebenaran tersuluh.benarlah artikel tersebut berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh ustaz yang dikasihi.Tiada apa yang hendak dimalukan jika saya tersilap,benar selama ini saya tersilap,begitulah saya sebelum ini beramal hanya dengan ikut-ikutan tanpa ilmu yang shahih serta berhujahkan ikhlas semata lantas beribadat tanpa panduan yang ditinggalkan rasulullah SAW.


Benar diantara syarat ibadat yang diterima ialah ikhlas,tetapi bukanlah ikhlas semata yang dituntut.Jika ikhlas semata dijadikan hujjah maka solat isyak yang ditunjukkan oleh rasulullah SAW dengan 4 rakaat boleh di tokok tambah menjadi 10 rakaat,10 rakaat lagi banyak amlannya,lagi pula amalannya baik,iaitu solat dan lagi pula penuh keikhlasan.


Jika ikhlas semata-mata dijadikan hujjah maka begitulah agama akan hilang keasliannya.Adakah benar ikhlas semata-mata yang dituntut dalam beramal?Tidak dinafikan peranan niat yang ikhlas dalam beramal amat tinggi kedudukannya sebagaimana hadis rasulullah SAW:


Diceritakan dari Amirul Mukminin, Abi Hafash, Umar bin Khattab ra, beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya sahnya amal itu hanya dengan niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanya memperoleh yang dia niatkan…”

(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)



Tetapi ikhlas sahaja masih belum mencukupi,ketahuilah bahawa ibadat itu perlu kepada ilmu.Perlu difahami bahawa selain peranan niat yang ikhlas,ibadat juga perlu kepada panduan dengan mengikuti syariat yang dibawakan rasulullah SAW.Amat malang bagi umat Muhammad SAW yang diutuskan rasul yang sepatutnya di jadikan teladan tetapi disia-siakan.Sehinggakan ada yang merasakan dirinya lebih alim dari rasulullah SAW sehinggakan tidak mahu mengikut petunjuk rasulullah SAW,lantas mencipta petunjuk dalam ibadat dengan cara yang tersendiri.Nauzubillah.barangkali sesetengah daripada kita terlupa dengan Firman Allah SWT yang bermaksud:


Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

(Ali 'Imraan:31)



Dan juga pesan rasulullah SAW di dalam melakukan ibadat-ibadat khusus yang lain seperti pesan rasulullah SAW di dalam solat yang bermaksud:


“Solatlah kalian,sebagaimana kalian melihat aku solat”

(Hadis riwayat Bukhari)



Juga pesan rasulullah SAW dalam melakukan ibadat haji yang bermaksud:


“Ambilah dariku cara manasik haji!”

(Hadis riwayat An-Nasai)



Didalam perkara ibadat kita disuruh mengikut sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah SAW,jesteru itu harus diperiksa setiap amal ibadat kita adakah ada dalil yang menunjukkan ianya shahih dari rasulullah SAW?


Jika tidak kita harus bimbang dengan amaran dari hadis rasullah SAW yang bermaksud:


“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ianya tertolak.”

(Hadis riwayat Bukhari)



Jangan kita melakukan qias di dalam perkara ibadat,lebih-lebih lagi dengan mendakwa qias ini mendatangkan amalan yang berniat baik,ini kerana niat yang baik sahaja masih belum memadai seperti yang tercatat di dalam riwayat ini yang bermaksud:


Daripada ‘Amr bin Salamah katanya: “Satu ketika kami duduk di pintu ‘Abd Allah bin Mas‘ud sebelum solat subuh. Apabila dia keluar, kami akan berjalan bersamanya ke masjid. Tiba-tiba datang kepada kami Abu Musa al-Asy‘ari, lalu bertanya: “Apakah Abu ‘Abd al-Rahman telah keluar kepada kamu?” Kami jawab: “Tidak!”. Maka dia duduk bersama kami sehingga ‘Abd Allah bin Mas‘ud keluar. Apabila dia keluar, kami semua bangun kepadanya.

Lalu Abu Musa al-Asy‘ari berkata kepadanya: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman, aku telah melihat di masjid tadi satu perkara yang aku tidak bersetuju, tetapi aku tidak lihat – alhamdulilah – melainkan ianya baik”. Dia bertanya: “Apakah ia?”. Kata Abu Musa: “Jika umur kamu panjang engkau akan melihatnya. Aku melihat satu puak, mereka duduk dalam lingkungan (halaqah) menunggu solat. Bagi setiap lingkungan (halaqah) ada seorang lelaki (ketua kumpulan), sementara di tangan mereka yang lain ada anak-anak batu. Apabila lelaki itu berkata : Takbir seratus kali, mereka pun bertakbir seratus kali. Apabila dia berkata: Tahlil seratus kali, mereka pun bertahlil seratus kali. Apabila dia berkata: Tasbih seratus kali, mereka pun bertasbih seratus kali.Tanya ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Apa yang telah kau katakan kepada mereka?”. Jawabnya: “Aku tidak kata kepada mereka apa-apa kerana menanti pandangan dan perintahmu”.

Berkata ‘Abd Allah bin Mas‘ud: “Mengapa engkau tidak menyuruh mereka mengira dosa mereka dan engkau jaminkan bahawa pahala mereka tidak akan hilang sedikit pun”. Lalu dia berjalan, kami pun berjalan bersamanya. Sehinggalah dia tiba kepada salah satu daripada lingkungan berkenaan. Dia berdiri lantas berkata: “Apa yang aku lihat kamu sedang lakukan ini?” Jawab mereka: “Wahai Abu ‘Abd al-Rahman! Batu yang dengannya kami menghitung takbir, tahlil dan tasbih”. Jawabnya: “Hitunglah dosa-dosa kamu, aku jamin pahala-pahala kamu tidak hilang sedikit pun. Celaka kamu wahai umat Muhammad! Alangkah cepat kemusnahan kamu. Para sahabat Nabi masih lagi ramai, baju baginda belum lagi buruk dan bekas makanan dan minuman baginda pun belum lagi pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya , apakah kamu berada di atas agama yang lebih mendapat petunjuk daripada agama Muhammad, atau sebenarnya kamu semua pembuka pintu kesesatan?”

Jawab mereka : “Demi Allah wahai Abu ‘Abd al-Rahman, kami hanya bertujuan baik. Jawabnya : “Betapa ramai yang bertujuan baik, tetapi tidak menepatinya.” Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami satu kaum yang membaca al-Quran namun tidak lebih dari kerongkong mereka. Demi Allah aku tidak tahu, barangkali kebanyakan mereka dari kalangan kamu.” Kemudian beliau pergi.

Berkata ‘Amr bin Salamah: “Kami melihat kebanyakan puak tersebut bersama Khawarij memerangi kami pada hari Nahrawan.”

(Riwayat al-Darimi di dalam Musnadnya dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Shahihah, jld. 5, m.s. 11./Dinukil dari buku Bid’ah Hasanah istilah yang di salah fahami)




Semoga Allah menerima amalan yang lalu berdasarkan ilmu yang terhad kita terpaksa melakukan ibadat secara ikut-ikutan tanpa berdasarkan dalil dari perbuatan rasulullah SAW yang shahih, Semoga kita dapat meningkatkan mutu amal ibadat kita dengan menambahkan ilmu mempelajari ibadat yang mengandungi dalil yang shahih dari rasulullah SAW supaya di terima oleh Allah SWT.

WA.




Ibn Yaacob

Ampang,Selangor.
31 Julai 2009 / 09 Syaban 1430

http://www.ibnyaacob.blogspot.com/